September 18, 2010

MOBILISASI, ROM (RANGE OF MOTION)

MOBILISASI, ROM (RANGE OF MOTION)
By HEROdes.com

A. Imobilisasi
1. Pengertian
Mobilisasi merupakan kemampuan untuk bergerak dengan bebas dan mudah, bergerak secara ritmik dan bertujuan tertentu (Berman, et al., 2008). Encarta World English Dictionary (2009), mendefinisikan mobilisasi sebagai kemampuan untuk bergerak khususnya bekerja dan latihan fisik. Imobilisasi diartikan sebagai ketidakmampuan untuk bergerak bebas, untuk mencapai suatu maksud dan melakukan kerja atau latihan.
Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 2007) masalah keperawatan gangguan moblisasi dapat berupa gangguan berikut:
a. Gangguan mobilisasi di tempat tidur, merupakan pembatasan pergerakan mandiri, dari satu posisi ke posisi lainnya di tempat tidur. Pasien dapat beralih posisi bila dibantu.
b. Gangguan mobilisasi fisik, merupakan pembatasan gerakan fisik baik tubuh, satu atau lebih ekstremitas untuk mencapai tujuan pergerakan. Pasien dengan gangguan mobilisasi fisik masih dapat melakukan pergerakan namun gerakan yang dihasilkan lambat, terbatas, dan tidak terkoordinasi atau gerakan refleks yang kacau.
c. Gangguan berpindah tempat (transfering), menggambarkan ketidakmampuan seseorang berpindah tempat di antara dua permukaan sejajar. Pasien tidak mampu mengubah letak tubuh dari satu tempat ke tempat lain yang berdekatan misalnya dari kursi ke tempat tidur atau sebaliknya.
d. Gangguan berjalan. Keadaan ini menggambarkan ketidakmampuan pasien berjalan kaki dalam satu lingkungan pada jarak tertentu baik pada permukaan datar atau permukaan miring. Pasien dengan masalah ini tidak mampu berjalan pada permukaan menanjak atau menurun dan sulit berjalan pada lingkungan rumah yang bertangga.
e. Ketidakmampuan menggunakan kursi roda. Gangguan mobilisasi menggunakan kursi roda lebih diarahkan pada ketidakmampuan memakai kursi roda untuk berpindah tempat pada suatu lingkungan. Pasien pada kelompok ini biasanya tidak diharapkan mampu berjalan kaki lagi.
2. Penyebab Imobilisasi
Kemampuan mobilisasi dapat dibatasi oleh masalah kesehatan, faktor lingkungan seperti permukaan tidak rata, dan keuangan untuk membeli alat bantu mobilisasi (Berman, et al., 2008). Menurut Talbut dan Marsden (2008) gangguan saraf motorik seperti pada stroke menyebabkan atropi otot, kelemahan, kekakuan ekstremitas, menimbulkan kesulitan bergerak. Cooper dan Herrera (2008), menyatakan bahwa nyeri sendi menimbulkan pembatasan ROM.
Imobilisasi dapat juga terjadi karena anjuran pembatasan gerakan untuk tujuan terapi. Gunn (2008) menulis bahwa imobilisasi tulang dengan bidai, gips untuk mempertahankan alignment tulang dan mempercepat proses penyembuhan. Apapun tujuannya, imobilisasi lama tetap menimbulkan atropi otot, menurunkan kekuatan dan ketahanan otot (LeMone dan Burke, 2008).
B. Fisiologi Pergerakan
1. Tulang
Tulang merupakan organ kaku dan sulit untuk digerakan atau dibengkokkan. Tulang berfungsi menyokong tubuh membentuk alignment dan postur tubuh yang tepat saat duduk, berdiri, atau berbaring. Tulang melindungi jaringan tubuh yang halus seperti otak, medula spinalis, dan organ bagian dalam tubuh. Cadangan kalsium tubuh yang diperlukan untuk kontraksi otot tersimpan pada matriks tulang (Tortora dan Derrickson, 2006; Gunn, 2007).
Fungsi pergerakan pada tulang dimungkinkan karena tulang menjadi tempat melekatnya otot rangka melalui tendon, adanya ligamen dan persendian. Tortora dan Derrickson (2006) menganalogi tulang sebagai tuas (lever), sendi sebagai titik tumpu dan otot sebagai sumber tenaga penggerak.
Pada tulang normal, proses resorpsi dan reabsorbsi selalu dipertahankan. Proses ini dipertahankan melalui stimulus mekanik bergerak (Setyo Widodo, 2005). Imobilisasi lama menyebabkan osteoporosis yang dapat menyebabkan fraktur tulang, nyeri kronik, dan berkurangnya kemandirian (Grifin, 2005).
2. Persendian dan jaringan ikat
Persendian merupakan pertemuan antara dua buah tulang, tulang dan tulang rawan, atau antara tulang dan gigi. Persendian dibagi menjadi tiga bagian: sinarthrosis, ampiarthrosis, diarthrosis. Sendi diarthrosis memiliki struktur persendian sinovial yang memiliki rongga sendi sebagai tempat persambungan tulang yang memungkinkan tulang bergerak bebas (Tortora dan Derrickson, 2006).
Sendi dilengkapi dengan tulang rawan pada kedua ujungnya, kapsul, ligamen, dan cairan sendi/cairan sinovial. Tulang rawan pada ujung tulang persendian memudahkan pergerakan dan mengurangi gesekan antar tulang. Kapsul sendi menutupi sekeliling rongga sendi dan menyatukan tulang, tersusun dari jaringan fibrus padat yang menahan sendi agar tidak keluar dari posisinya saat bergerak dengan regangan kuat. Ligamen menjaga tulang agar tetap berada pada posisinya. Fleksibilitas ligamen dan kapsul sendi yang tinggi akan menghasilkan ROM yang lebih tinggi. Cairan sendi untuk memperkecil gesekan antar tulang, meredam gaya pada tulang, menyiapkan nutrisi dan oksigen untuk kehidupan sel tulang rawan sendi. Imobilisasi lama menurunkan produksi cairan sendi, fleksibilitas ligamen, dan kapsul sendi (Tortora dan Derrickson, 2006).
3. Otot
Otot rangka berikatan dengan tulang dan menggerakkan tulang, kulit atau otot rangka lain saat berkontraksi dibawah kontrol saraf. Otot rangka menstabilkan persendian dan membantu mempertahankan posisi saat duduk atau berdiri. Aktivitas kontraksi otot memerlukan ATP yang dihasilkan sel otot dan memegang peran utama dalam pergerakan (Tortora dan Derrickson, 2006).
Saat kontraksi (Tortora dan Derrickson, 2006) otot menarik tulang pada tempat melekat ujung insersi tendon ke arah tempat melekatnya tendon dengan bagian tulang yang tidak bergerak (origin). Kelenturan dan ketahanan otot (Widodo, 2005) dipengaruhi besar massa otot, ukuran serabut dan jumlah unit motorik pada otot. Proses menua, imobilisasi, dan sakit kronis menyebabkan penurunan massa otot menurunkan kemampuan mobilisasi (Ritchie, 2008). Tegangan otot dan pemendekan tendon meningkat akibat imobilisasi menimbulkan kontraktur (Talbut dan Marsden, 2008).
4. Mekanisme keseimbangan
Mekanisme keseimbangan diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan postur tubuh saat bergerak, terutama pergerakan kepala. Mekanisme keseimbangan berhubungan dengan propriosepsi. Propriosepsi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan postur, pergerakan, perubahan, keseimbangan, dan mengetahui posisi, berat, serta tahanan suatu benda terhadap tubuh (Berman, et al., 2008). Gangguan keseimbangan sering terjadi pada pasien tua, paska stroke, artritis, dan hipotensi orthostatik (Widodo, 2005).
5. Saraf
Saraf mengkoordinasi tujuan pergerakan dengan mengintegrasi secara kompleks interaksi antara saraf otak, medula spinalis, dan saraf perifer. Saraf berhubungan dengan otot pada neuromuscular junction. Sinaps antara saraf motorik dan otot melepaskan asetilkolin yang membangkitkan aksi potensial dan menimbulkan kontraksi otot. Pada otot terdapat beberapa ujung saraf membawa informasi dari sendi, otot ke spinal kord mengenai nyeri dan peregangan untuk diteruskan ke otak dan berespon melalui saraf motorik ke otot untuk mengatur pergerakan tubuh (LeMone dan Burke, 2008). Menurut Talbut dan Marsden (2008), otot yang tidak mendapat stimulus dari saraf motorik akan mengalami atropi. Kerusakan saraf motorik menimbulkan kesulitan dalam gerakan sadar.
C. Pasien Imobilisasi
1. Pasien Imobilisasi
Mobilisasi menjadi hal dasar dalam pelaksanaan ADL. Imobilisasi meningkatkan ketergantungan pasien akan ADL (makan minum, mandi, berpakaian, berias, kegiatan di toilet, berpindah tempat dan berjalan). Bantuan ADL diberikan sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien.
Indeks Barthel (IB) dan indeks Katz sering dipakai untuk mengukur tingkat ketergantungan pasien imobilisasi melakukan ADL. Petrea, et al. (2009) menggunakan indeks Katz untuk mengukur tingkat ketergantungan pada pasien stroke. Martinson dan Eksborg (2006) menyatakan bahwa IB lebih signifikan digunakan untuk mengukur tingkat ketergantungan ADL pasien stroke pada minggu awal dibandingkan dengan Activity Indeks.
Indeks Katz memiliki 6 komponen: mandi, makan, berpakaian, kegiatan di kamar kecil (toileting), berpindah tempat (transfer), mengontrol urin dan feses. Indeks Barthel memiliki sepuluh komponen meliputi makan, mandi, berpakaian, merawat diri, mengontrol Buang Air Besar (BAB), mengontrol Buang Air Kecil (BAK), toileting, transfer, ambulasi, dan naik turun tangga.


2. Indeks Barthel
Indeks Barthel (IB) dirumuskan oleh Mahoney, F.I dan Barthel D.W., menjadi salah satu indeks untuk mengukur tingkat ketergantungan ADL dan kemampuan gerak pasien imobilisasi. Nilai IB mudah diperoleh dengan cara anamnesis dan observasi (Supraptiningsih dkk, 2002).
Nilai IB mula-mula dibuat dalam dalam dua kategori yaitu mandiri dan butuh bantuan namun dalam perkembangannya dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kondisi tempat rawat pasien (Supraptiningsih, 2002). Shah, Vanclai, Cooper (1998, cit Australian Departement of Health and Ageing, 2006) memodifikasi IB menjadi lima tingkatan ketergantungan pada setiap komponen dengan nilai indeks sebagai berikut:
a. Makan
10 = Mandiri untuk kegiatan: a) menyuap makanan yang diletakkan dalam jangkauan; b) mampu menggunakan peralatan makan seperti senduk, garpu, pisau untuk mengecilkan dan mencampur makanan; c) mampu mengunyah dan menelan makanan.
8 = Mandiri untuk kegiatan a dan b tetapi memerlukan sedikit bantuan untuk kegiatan b (Dibantu dengan mengecilkan makanan pasien).
5 = Dapat makan sendiri namun memerlukan pengawasan, memerlukan bantuan untuk kegiatan b.
2 = Mandiri untuk kegiatan c, masih mampu memegang senduk tapi perlu bantuan aktif untuk kegiatan a dan b
0 = Tidak mampu melakukan kegiatan a,b, hanya mampu kegiatan c atau memerlukan NGT.
b. Mandi
5 = Mandiri untuk kegiatan : a) Mampu menggayung air atau memakai waslap yang diletakkan dalam jangkauan; a) mampu menyabun seluruh tubuh; c) mengeringkan badan.
4 = Memerlukan bantuan pengawasan suhu air mandi tapi mampu melakukan kegiatan a,b,c.
3 = Memerlukan bantuan untuk kegiatan b dan c pada bagian tubuh yang tidak dapat dijangkau.
1 = Memerlukan bantuan untuk semua kegiatan namun masih ada sedikit bantuan dari pasien misalnya menggosok atau mengeringkan area dada, lengan, perut.
0= Semua kegiatan dibantu.
c. Merapikan diri/ merias diri
5 = Mandiri untuk kegiatan: a) mencuci tangan dan muka; b) menyikat gigi; c) menyisir rambut; d) bercukur untuk pria; e) dapat mengambil, memasang, menyimpan kembali alat cukur pada tempat; f) wanita dapat memakai tata rias.
4 = Pasien dapat melakukan semua kegiatan tapi memerlukan bantuan minimal seperti merapikan setelah kegiatan.
3 = Memerlukan bantuan untuk beberapa tahap kegiatan
1 = Semua kegiatan dibantu namun pasien dapat melakukan satu atau dua kegiatan dengan sempurna.
0= Memerlukan bantuan total pada semua kegiatan.
d. Berpakaian
10 = Mandiri dalam kegiatan: a) memakai dan melepas pakaian; b) mengancingkan baju, menarik resleting, mengikat tali sepatu c) memasang ikat pinggang atau korset, pengait bra.
8 = Memerlukan bantuan minimal untuk membuka kancing, atau resleting.
5 = Memerlukan bantuan saat memakai, dan atau melepas pakaian tertentu yang sulit seperti pada ekstremitas bawah.
2 = Semua kegiatan dibantu dengan sedikit partisipasi pasien pada beberapa tahap berpakaian.
0 = Bantuan total untuk semua kegiatan tanpa sedikitpun partisipasi pasien.
e. Mengontrol BAB
10 = Mampu mengontrol BAB: a) BAB spontan; b) mampu memasukan supositoria mandiri dan klisma pada pasien cedera spinal; c) dapat mengontrol BAB.
8 = BAB spontan namun memerlukan bantuan minimal untuk memasukan supositoria, klisma dan jarang tidak terkontrol.
5 = Kadang tidak mampu menahan BAB bila bantuan terlambat, tetapi dapat memasukan supositoria atau memakai alat bantu.
2 = Ketidakmampuan menahan BAB lebih sering dari kemampuan kontrol, sedikit bertahan bila dibantu dengan mengatur posisi, butuh diaper.
0 = Pasien inkontinensia dan tidak berpartisipasi sama sekali, sangat memerlukan diaper.
f. Mengontrol BAK
10 = Mampu mengontrol BAK: a) BAK spontan siang maupun malam hari; b) Pasien cedera spinal dapat menggunakan kateter dan mengosongkan kantung penampung urine secara mandiri.
8 = Pasien dapat mengontrol BAK pada siang maupun malam tapi kadang tidak dapat mengontrol BAK, tidak dapat menahan bila toilet jauh atau karena tidak segera di pasang pot/ urinal.
5 = Dapat mengontrol BAK siang hari tetapi lepas kontrol pada malam hari atau memerlukan bantuan alat internal atau eksternal.
2 = Tidak mampu mengontrol BAK baik siang maupun malam, dapat sedikit menahan bila segera dipasang pot atau urinal.
0 = Tidak mampu mengontrol BAK, memerlukan bantuan kateter menetap.
g. Toileting
10 = Mandiri untuk kegiatan: a) mampu melepas dan mengenakan kembali pakaian; b) mampu jongkok dan bangun dari toilet; c) membersihkan perianal; d) mencuci tangan setelah BAB/BAK; e) mengguyur kloset setelah BAB/BAK.
8 = Mampu melakukan kegiatan namun perlu pengawasan untuk transfer dan kegiatan di toilet.
5 = Mampu melakukan sendiri tapi masih memerlukan bantuan seseorang untuk tahap kegiatan sperti melepas pakaian, mencuci tangan, dan transfer ke toilet.
2 = Memerlukan bantuan maksimal untuk semua tahap kegiatan seperti transfer, membuka pakaian, membersihkan area perianal.
0 = Tidak mampu melakukan apapun.
h. Transfer
15 = Mandiri untuk kegiatan: a) Dapat bangun dan duduk di samping tempat tidur; b) berpindah secara aman ke kursi atau berpindah dari kursi ke tempat tidur; c) berpegangan secara aman saat berpindah.
12 = Memerlukan pengawasan seseorang untuk memastikan keamanan.
8 = Memerlukan bantuan fisik satu orang untuk beberapa tahap transfer.
3 = Memerlukan bantuan maksimal satu atau dua orang secara fisik untuk transfer, tapi mampu duduk.
0 = Tidak mampu transfer, tidak seimbang saat duduk.
i. Berjalan pada tempat datar
15 = Pasien dapat mengambil posisi berdiri, kemudian berjalan mandiri atau dengan tongkat lebih dari 50 meter tanpa pengawasan.
12 = Dapat berjalan mandiri tapi kurang dari 50 meter, memerlukan pengawasan untuk memastikan keamanan.
8 = Memerlukan bantuan seseorang untuk menahan saat berjalan.
3 = Memerlukan bantuan maksimal satu orang atau lebih saat berjalan.
0 = Tidak dapat berjalan meskipun dibantu.
j. Menaiki tangga
10= Dapat naik turun tangga tanpa bantuan fisik atau pengawasan. Pasien dapat berpegangan secara aman dan membawa tongkat saat berjalan.
8= Dapat mandiri namun memerlukan pengawasan untuk memastikan keamanan.
5= Dapat naik turun tangga tapi tidak dapat membawa serta alat bantu jalan. Pasien memerlukan bantuan dan pengawasan.
2= Dapat naik turun tangga dengan bantuan.
0= Tidak mampu melakukan.
Skor IB 100 berarti pasien mandiri dan mampu melakukan sepuluh komponen kegiatan tanpa bantuan fisik atau pengawasan. Nilai 91 – 99 ketergantungan minimal, hanya perlu pengawasan. Nilai 75 – 90 ketergantungan ringan, memerlukan bantuan minimal namun beberapa komponen memerlukan bantuan sedang. Nilai 50 – 74, ketergantungan sedang, memerlukan bantuan lebih banyak, sebagian kegiatan dilakukan mandiri. Nilai 25 – 49 ketergantungan maksimal: memerlukan bantuan maksimal, namun masih mampu melakukan beberapa kegiatan. Nilai 0-24 pasien ketergantungan total.
D. Aktivitas Keperawatan pada Pasien Imobilisasi
Aktivitas keperawatan pada pasien imobilisasi menurut LeMone dan Burke (2008) merupakan semua kegiatan yang dilakukan perawat pada pasien imobilisasi baik langsung maupun tak langsung untuk mempertahankan, memperbaiki, mencegah komplikasi dan kehilangan fungsi gerakan. Aktivitas keperawatan dapat dilakukan atas inisiatip perawat sendiri, dokter, maupun tenaga kesehatan lain.
Aktivitas keperawatan berfokus pada kebutuhan pasien akan pelayanan keperawatan. Pasien dengan imobilisasi mengalami kesulitan untuk melakukan perawatan diri (Berman, et al., 2008). Talbut dan Marsden (2008) mengemukakan bahwa pasien imobilisasi karena gangguan saraf motorik akan kesulitan menggunakan tangan untuk aktivitas makan, kesulitan makan karena ketidakmampuan mengunyah dan menelan, dan aktivitas rutin toileting akibat kesulitan bergerak dan semua kegiatan yang ada memerlukan gerakan. Pasien perlu dibantu dalam ADL.
Orem dalam self care deficit theory (Berman, et al., 2008) menerangkan bahwa perawat membantu pasien yang mengalami ketidakmampuan merawat diri melalui lima metode: bekerja langsung pada pasien, memandu, mengajarkan, memberi dukungan dan menyiapkan lingkungan yang meningkatkan kemampuan klien untuk melakukan aktivitas mandiri. Orem mengidentifikasi sistem pelayanan keperawatan menjadi tiga bagian: 1) sistem kompensasi menyeluruh dimana segala aktivitas perawatan diri pasien dikerjakan seluruhnya oleh perawat; 2) sistem kompensasi sebagian, perawat mengerjakan sebagian dari aktivitas perawatan diri pasien; 3) Sistem dukungan dan pendidikan pasien, dilakukan agar pasien mampu merawat diri sendiri.
Aktivitas keperawatan dapat dilakukan sebagai aktivitas mandiri dan aktivitas kolaborasi. Aktivitas mandiri dilakukan perawat atas inisiatif perawat, berdasarkan ilmu dan ketrampilan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien akan pelayanan keperawatan. Tindakan kolaborasi dilakukan bila ada instruksi atau saran dari tim kesehatan lain untuk pengobatan dan atau terapi. Pada tindakan kolaborasi, perawat dan tim kesehatan lain bersama- sama terlibat dalam tindakan ini (Berman et al, 2008).
Hampir semua aktivitas keperawatan pada pasien imobilisasi adalah aktivitas mandiri keperawatan. Aktivitas kolaborasi berupa aktivitas pengobatan dan terapi. Pada aktivitas latihan ROM, dapat dilakukan sebagai aktivitas mandiri atau aktivitas kolaborasi.
1. Aktivitas perawatan diri pasien.
Aktivitas perawatan diri merupakan aktivitas mandiri keperawatan. Aktivitas ini dilakukan saat pasien tidak mampu menolong diri sendiri dan keluarga tidak mampu memberi pertolongan sesuai yang diharapkan. Perawat dapat melakukan sepenuhnya, melakukan sebagian, atau dengan memberikan petunjuk. Kegiatan perawatan diri dapat didelegasikan kepada pemberi pelayanan keperawatan. Perawat membantu pasien dan keluarga menemukan cara yang aman dan mudah untuk melakukan ADL, dan meningkatkan kemandirian klien. Keterlibatan pasien dapat meningkatkan konsep diri yang positip (Berman, et al, 2008).
Pasien dengan ketergantungan total semua kegiatan dilakukan oleh perawat. Pada ketergantungan sebagian perawat menyiapkan peralatan, pasien sendiri mengerjakannya dan perawat membantu pada bagian yang sulit dilakukan pasien. Pada tingkat ketergantungan minimal perawat memantau, memberi petunjuk, dan memberi motivasi dan pasien melakukan sendiri aktivitasnya (Wilkinson, 2005).
a. Mandi. Mandi bermanfaat untuk menjaga kebersihan kulit dan mengurangi terjadinya kerusakan kulit, untuk kenyamanan dan relaksasi pasien. Saat pasien dimandikan, perawat dapat mengkaji area kulit yang lembab berlebihan atau sangat kering pada area-area yang tertutup terhadap kerusakan kulit dan mengkaji kemampuan mobilisasi (Berman, et al., 2008).
Pasien dengan ketergantungan total, semua kegiatan dilakukan perawat. Pada pasien ketergantungan sedang perawat menyiapkan semua perlengkapan, memposisikan pasien, melepas pakaian, menggosok semua bagian tubuh dengan sedikit bantuan dari pasien. Ketergantungan sebagian perawat menyiapkan perlengkapan dalam jangkauan pasien, pasien sendiri menggosok tubuh, perawat membantu pada area punggung dan kaki. Kegiatan ini dapat didelegasikan kepada pemberi perawatan. Perawat dapat melibatkan keluarga (Berman, et al., 2008; Wilkinson, 2005)
b. Makan. Nutrisi bermanfaat untuk memberikan energi untuk kebutuhan tubuh, membentuk jaringan tubuh, dan perlindungan tubuh. Nutrisi dan cairan yang baik membantu mencegah kerusakan kulit dan cairan yang cukup mencegah infeksi saluran kencing ( Rosdahl dan Kowalski, 2008).
Pasien dengan ketidakmampuan menelan dan penurunan kesadaran dapat dilayani makanan lewat selang atau diberikan nutrisi dan cairan lewat infus. Pada pasien dengan kelemahan perawat dapat menyuapi dan bekerjasama dengan ahli gizi untuk menyiapkan makanan yang mudah ditelan. Perawat membantu memotong makanan, mengatur posisi pasien dan memotivasi untuk makan dan memantau pasien ketergantungan sedang. Pasien ketergantungan sebagian perawat membantu dengan mendekatkan makanan, mengatur posisi dan memantau makan (Berman et al., 2008; Wilkinson, 2005)
c. Kebersihan mulut. Kebersihan mulut yang baik mengurangi keasaman mulut dan mencegah berkembangnya bakteri dan peradangan mukosa mulut (Nainar & Mohummed, 2004 cit Berman et al., 2008). Perawat melakukan semua kegiatan untuk membersihkan mulut pada pasien dengan ketergantungan total. Pasien ketergantungan sedang dibantu perawat dengan menyiapkan perlengkapan dan memposisikan pasien dan perawat membantu memberi arahan dan motivasi (Berman, et al., 2008; Wilkinson, 2005).
d. Berpakaian dan berdandan. Perawat melepaskan dan membantu pasien mengenakan pakaian, menyisir rambut memberi bedak atau bercukur untuk pasien ketergantungan total. Pada ketergantungan sedang pasien dapat membantu merisleting, mengancingkan baju. Ketergantungan sebagian perawat menyiapkan pakaian dan pasien mengerjakan sendiri dengan arahan perawat (Berman, et al., 2008; Wilkinson, 2005).
e. Toileting. Pasien ketergantungan total perawat membantu melepas pakaian bawah, menempatkan pasien pada pispot dan membersihkan area perianal setelah kegiatan. Pasien ketergantungan sedang perawat menyiapkan pispot, menempatkan pasien di pispot atau kloset dan mencuci tangan pasien setelah tindakan. Pada ketergantungan sebagian pasien dapat dibimbing ke kamar kecil, perawat membantu melepaskan pakaian. Untuk kegiatan di kamar kecil perawat perlu memantau kemampuan pasien untuk melakukan transfer dan memakai pakaian (Berman, et al., 2008; Wilkinson, 2005).
Pasien dengan inkontinensia dapat dipertimbangkan untuk penggunaan kateter, kondom kateter atau diaper tapi perlu diawasi. Penggunaan kateter menetap berisiko untuk infeksi saluran kencing sedang diaper yang lembab berlebih berisiko untuk iritasi dan kerusakan kulit (Berman, et al., 2008; Rosdahl dan Kowalski, 2008).
2. Mengatur posisi pasien
Mengubah posisi pasien imobilisasi di tempat tidur merupakan aktivitas mandiri keperawatan yang bermanfaat untuk mengurangi ketidaknyamanan, mencegah kerusakan saraf perifer dan pembuluh darah yang beresiko bagi kerusakan kulit. Perubahan posisi juga bermanfaat untuk mempertahankan tonus otot, menstimulasi refleks postural, dan mencegah kontraktur otot (LeMone dan Burke, 2008; Gulanick, et al., 2009).
Posisi pasien di tempat tidur dapat diatur dengan posisi terlentang, telungkup, menyamping, sims, posisi setengah duduk rendah, setengah duduk tinggi. Mengubah posisi tiap 2 jam dapat membantu mengurangi tekanan pada kulit dan memperlancar aliran darah. Perawat membuat jadwal pergantian posisi, menjelaskan kepada keluarga cara melakukan perubahan posisi secara aman. Perawat perlu memperhatikan alignment tubuh agar tidak menimbulkan regangan berlebihan pada otot yang menyebabkan nyeri (Berman, et al., 2008).
Posisi fowler merupakan posisi setengah duduk dengan peninggian 45 – 90 derajat. Posisi ini membantu meningkatkan ekpansi paru saat bernapas. Cocok untuk pasien yang mengalami masalah jantung paru (Berman, et al., 2008).
Posisi telungkup (prone), bantal dipakai pada kepala dan diletakan dibawah perut dengan kepala dimiringkan ke samping dan kedua tangan fleksi. Posisi ini baik untuk meningkatkan ekstensi penuh bagian panggul dan lutut, mempertahankan kelengkungan normal tulang belakang, meningkatkan drainase dari mulut dan mencegah aspirasi. Posisi ini tidak cocok untuk pasien dengan gangguan jantung dan paru karena menghambat ekspansi paru. Tidur lama dalam posisi telungkup dapat menyebabkan plantar fleksi pada kaki (Berman, et al., 2008).
Posisi menyamping (Lateral) dibentuk dengan mengatur posisi tidur pada sisi tubuh, kaki difleksi pada atas panggul dan lutut membentuk segitiga. Posisi ini bermanfaat meningkatkan alignment tubuh yang baik, membantu fleksi pada puncak tulang panggul, mengurangi tekanan pada tumit. Cocok dan nyaman untuk pasien dengan defisit sensori motorik (Berman, et al., 2008).
Posisi sims’ (semiprone) merupakan posisi menyamping yang cenderung telungkup dengan tangan bagian bawah diletakkan menyamping dan tangan bagian atas flesksi pada siku. Kedua kaki fleksi dengan bagian atas lebih fleksi dari bagian bawah. Posisi ini cocok untuk pasien dengan penurunan kesadaran dan defisit sensori motorik karena meningkatkan drainase dari mulut dan untuk pasien dengan paralisis dapat mengurangi tekanan di atas trokanter mayor dan pada panggul (Berman, et al., 2008).
3. Memonitor tanda-tanda vital
Imobilisasi lama sering menimbulkan hipotensi orthostatik saat perubahan dari posisi baring ke posisi duduk dan infeksi. Pasien dengan gangguan jantung, pembuluh darah dan paru sering berespon terhadap perubahan posisi atau aktivitas dan menurut Widodo (2005) latihan memengaruhi peningkatan tekanan darah dan nadi. Perlu dimonitor tanda -anda vital sebelum, selama, dan setelah melakukan latihan gerak untuk menentukan respon oksigenasi pasien.
4. Melakukan latihan ROM
Latihan ROM merupakan bentuk latihan pergerakan yang dilakukan dengan menggerakan semua bagian persendian hingga mencapai rentangan penuh tanpa menimbulkan rasa nyeri atau bunyi berderik pada persendian. Latihan ini bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan pergerakan pada setiap persendian, mencegah kontraktur sendi dan atropi otot, memperlancar aliran darah dan mencegah pembentukan trombus dan embolus, mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot. ROM juga bermanfaat untuk membantu pasien mencapai kemampuan aktivitas normal (Brookside Associates, 2007). Latihan ini dapat dikerjakan mandiri atau berkolaborasi dengan fisioterapist.
Latihan ROM dibedakan menjadi ROM pasif, aktif, aktif asistif, resistif, dan isometrik. ROM pasif dilakukan oleh perawat, pasien pasif. ROM aktif dikerjakan oleh pasien sendiri tanpa bantuan perawat, sedang pada jenis aktif asistif perawat membantu menyokong bagian distal persendian . ROM resisitf dilakukan pasien dengan menekan atau mendorong obyek kuat sedang latihan isometrik dikerjakan sendiri oleh pasien dengan mengkontraksikan dan merelaksasi otot (Brookside Associates,2007; Rosdahl dan Kowalski, 2008).
ROM pasif, pasien tidak terlibat, semua dikerjakan oleh perawat. Jenis latihan ini baik untuk mempertahankan kelenturan sendi tetapi tidak meningkatkan kekuatan otot dan mencegah demineralisasi tulang karena tidak terjadi kontraksi volunter otot, tekanan pada tulang dan pemanjangan masa otot. Untuk meningkatkan kekuatan otot, mencegah demineralisasi tulang, dan mempertahankan fungsi otot dapat menggunakan jenis latihan ROM aktif, aktif resisitif, aktif asisitif, dan latihan isometrik, yang dapat memperlancar aliran balik vena (Brookside Associates, 2007; Rosdahl dan kowalski, 2008). Perawat dapat berkolaborasi dengan fisioterapist untuk perencanaan kebutuhan latihan, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan gerak (Wilkinson, 2005).
Latihan ROM tidak dianjurkan bila pasien memiliki gangguan jantung, pernapasan, gangguan jaringan ikat sendi. Latihan ROM pada pasien dengan gangguan jantung dan paru menyebabkan peningkatan kebutuhan sirkulasi untuk menyediakan energi yang diperlukan untuk melakukan pergerakan. Pada sendi yang meradang bila dilakukan latihan ROM akan memperburuk kerusakan dan dapat merusak jaringan disekelilingnya (Brookside Associates, 2007; Widodo, 2005).
5. Mencegah dan mengontrol kerusakan kulit
Untuk mengurangi kerusakan kulit perawat dapat melakukan kegiatan seperti merubah posisi, menjaga area kulit tetap bersih dan kering, memberikan lotion pada kulit yang sangat kering. Kegiatan ini dapat dikerjakan bersamaan dengan kegiatan perawatan diri misalnya mandi, membersihkan area perianal setelah BAB/ BAK. Setiap pergantian posisi perawat mengontrol tanda-tanda kerusakan kulit pada area tertekan. Untuk mengurangi tekanan pada kulit dapat digunakan kasur udara (Berman, et al., 2008; Wilkinson, 2005).
Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat turut membantu mencegah kerusakan kulit karena membantu kulit berfungsi baik. Pasien dimotivasi untuk mempertahankan jumlah minum yang cukup jika tidak ada kontraindikasi (Rosdahl & Kowalski, 2008).
6. Latihan mengontrol BAK dan BAB
Latihan ini dapat diajarkan perawat untuk meningkatkan kemampuan mengontrol dan merasakan tanda- tanda BAK dan BAB dengan mengkontraksikan otot perinium. Pasien yang menggunakan kateter dapat dilatih dengan membendung aliran kateter dan membukanya tiap dua jam atau saat merasa ada stimulus BAK.
Pasien imobilisasi dapat mengalami inkontinensia feses atau konstipasi akibat kehilangan inervasi pada saluran gastrointestinal. Pasien dapat dilatih untuk BAB mengikuti jadwal yang dibuat dan latihan menahan di luar jadwal. Perawat perlu mengkaji pola BAB pasien sebelum memulai program latihan. Pasien dengan konstipasi dapat diatur diet yang tinggi serat, kecukupan cairan (Rosdahl & Kowalski, 2008).
7. Latihan dan bantuan ambulasi pasien
Sebelum melakukan ambulasi jalan, perawat perlu mengkaji kemampuan pasien dengan mengontrol kekuatan otot, terutama otot quadricep femoris yang mengekstensi lutut dan memfleksi paha saat berjalan. Perawat dapat memandu pasien melakukan latihan untuk meregangkan dan merelaksasi saat pasien masih di tempat tidur (Berman, et al., 2008).
Bila pasien dinilai kuat dan aman untuk ambulasi dapat dikaji kemampuan ambulasi. Perawat perlu memastikan bahwa pasien memerlukan bantuan satu atau dua orang, keamanan lingkungan saat latihan ambulasi serta kekuatan dan kemampuan perawat agar tidak mencederai diri perawat dan pasien. Sebelum, selama dan sesudah latihan perawat perlu mewaspadai adanya hipotensi orthostatik (Berman, et al., 2008; Rosdahl dan Kowalski, 2008). Perawat dapat bekerjasama dengan fisioterapist atau okupasi terapist untuk penggunaan alat bantu jalan (Wilkinson, 2005; Rosdahl dan Kowalski, 2008).
8. Kegiatan untuk pencegahan hipotensi orthostatik
Perubahan posisi ke arah vertikal dapat menyebabkan hipotensi orthostatik pada pasien imobilisasi akibat penurunan refleks postural dan tonus pembuluh darah. Sebelum perubahan posisi dari berbaring ke posisi duduk perawat perlu menganjurkan pasien untuk melakukan perubahan posisi dengan bertahap meninggikan kepala, menjuntai kaki ke lantai, dan bangun duduk dengan selang waktu istirahat satu menit. Perawat perlu menjelaskan tanda-tanda hipotensi orthostatik dan mengajarkan pasien perlunya latihan peregangan tungkai bawah untuk menguatkan tonus dan merangsang refleks postural. Pasien juga dikontrol terhadap efek pengobatan yang beresiko hipotensi (Berman, et al., 2008).
9. Mencegah Kontraktur dan Deformitas Tulang Ekstremitas
Menurut Gulanick, et al.(2009) perawat dapat menempatkan alat bantuan untuk mempertahankan kaki, tangan dalam posisi normal. Perawat dapat memasang penyanggah kaki yang dilapisi bahan yang lembut agar selalu dalam posisi dorsofleksi untuk mencegah kelayuan kaki (plantarfleksi) saat pasien dalam terlentang. Perawat menempatkan gulungan handuk kecil ditelapak tangan untuk mempertahankan posisi tangan selalu terbuka. Posisi terlentang yang lama memudahkan terjadinya rotasi hip maka untuk mempertahankannya dapat dipakai trokanter rol. Alat ini dapat dimodifikasi dari gulungan handuk mandi yang besar atau selimut (Berman, et al., 2008; Rosdahl dan Kowalski, 2008).
10. Mencegah Jatuh
Pasien dengan penurunan kesadaran perlu dimonitor tingkat kesadaran, memberi pengaman pada sisi tempat tidur (Gulanick, et al., 2009). Perawat dapat melibatkan keluarga untuk menunggui pasien. Lantai kering, tidak ada rintangan saat pasien belajar berjalan. Pasien yang menggunakan kursi roda perlu diperhatikan keamanan kursi roda (Berman, et al., 2008).
11. Kebutuhan Oksigenasi
Pasien imobilisasi karena penurunan kesadaran atau gangguan saraf motorik (Talbut dan Marsden, 2008) sering mengalami kesulitan mengeluarkan sekresi mukus berlebihan akibat gangguan saraf motorik pada otot sehingga perlu memperhatikan kebersihan jalan napas. Posisi sims’ atau telungkup dapat membantu drainase sekresi bronkus (Berman et al., 2008), dan bila sekresi sangat banyak dapat dilakukan penghisapan dengan mesin. Pemberian oksigen disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien sadar dapat diberikan latihan napas dalam dan batuk agar memudahkan pengeluarkan sekret dan meningkatkan pengembangan paru (Gulanick et al., 2009).
12. Pengobatan dan terapi
Pasien imobilisasi akibat nyeri dapat diberikan analgetik sesuai kebutuhan. Pasien mungkin memerlukan pemeriksaan laboratorium kadar albumin pada gangguan nutrisi, pemeriksaan kultur urine jika ada infeksi saluran kencing (Wilkinson, 2005).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar